“Untuk membuat baja itu kita butuh reduktor batu bara misalnya, Aceh juga punya banyak batu bara, lalu dalam proses pembuatan baja kita butuh kapur, Aceh juga punya kapur.” RESVANI, Wakil Ketua Umum Perhapi
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Aceh dinilai memiliki modal sumber daya yang cukup lengkap untuk mengembangkan industri baja dari hulu hingga hilir. Potensi tersebut meliputi bijih besi, batu bara sebagai reduktor, serta batu kapur yang menjadi bahan pendukung dalam proses produksi baja.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Resvani, mengatakan, pengelolaan sumber daya mineral tidak cukup berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk antara. Hilirisasi perlu didorong hingga menghasilkan produk akhir yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat maupun dipasarkan ke pasar global.
Menurutnya, transformasi dari bahan mentah dan hilirisasi di industri perlu dilakukan, meski demikian itu saja tidak cukup, semua pihak harus mendorong sampai pada produk akhir yang bisa dikonsumsi. “Seperti halnya handphone yang bisa langsung kita pakai, kendaraan seperti mobil dan motor, itu semua bisa langsung kita pakai atau bisa kita jual ke seluruh dunia sesuai dengan kebutuhan market pada saat itu,” ujar Resvani saat menjadi pembicara Seminar Nasional rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) XIII Perhimpunan Mahasiswa Pertambangan Indonesia (Permata) dan Temu Ilmiah Mahasiswa Tambang Indonesia (Timti) XXII 2026, di Anjong Monmata, Banda Aceh, Minggu (4/10/2026).
Dikatakan, pengembangan industri hingga produk akhir akan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan hanya membangun industri intermediate. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa sumber daya alam yang dapat menjadi pembeda dengan negara industri lainnya.
Dia mencontohkan Jepang yang tidak memiliki sumber daya mineral sebesar Indonesia, tetapi mampu berkembang sebagai negara industri karena membangun manufaktur. Sementara Cina dinilai memiliki kombinasi sumber daya mineral dan batu bara yang kemudian didukung pembangunan industri manufaktur sehingga rantai industrinya menjadi lebih kompetitif.
“Makanya comparative advantage atau keunggulan komparatif ini harus bisa segera kita dorong sebagai nilai tambah untuk membangun industri yang menjadikannya lebih mudah untuk kompetitif,” katanya.
Khusus Aceh, Resvani menyebut kebutuhan baja dunia masih besar karena komoditas tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan dasar, mulai dari konstruksi hingga transportasi. Berdasarkan data eksplorasi yang ada, Aceh memiliki bijih besi, batubara dan batu kapur yang dapat menjadi modal awal pengembangan industri baja.
“Untuk membuat baja itu kita butuh reduktor batu bara misalnya, Aceh juga punya banyak batu bara, lalu dalam proses pembuatan baja kita butuh kapur, Aceh juga punya kapur. Maka hanya dengan melihat dari sisi comparative advantage kita punya tiga komoditas utama dalam industri baja ada semua,” jelasnya.
Selain sumber daya, posisi geografis Aceh juga dinilai strategis untuk mendukung pengembangan industri dan investasi. Resvani menilai Aceh dapat mengembangkan fungsi hub perdagangan dan industri dengan memanfaatkan letaknya yang berada di jalur strategis.
Di sisi lain, ia menekankan pengembangan pertambangan tetap harus dibarengi penerapan good mining practice. Kewajiban terhadap lingkungan, masyarakat dan fiskal harus dijalankan dengan baik agar manfaat kegiatan industri dapat kembali mendukung pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat melalui industrialisasi.(rn)
Pengembangan Industri Pertambangan
SEMENTARA itu, Ketua Munas Permata, M Fathan Aulia Irza, mengatakan, pemilihan ketua akan dilakukan melalui musyawarah pada 5-8 Oktober 2026. Di sisi lain, pihaknya berharap rekomendasi dari seminar nasional tersebut dapat menjadi masukan bagi Kementerian ESDM, terutama terkait kepastian hukum dalam pengembangan industri pertambangan.
“Sejalan dengan seminar yang dilakukan tadi, kita masih mempertanyakan sebenarnya kepastian hukum ini untuk Indonesia, atau untuk investor. Dari agenda hari ini seminar nasional, semoga harapan kami, rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dari forum ini, dapat menjadi rumusan di Kementerian ESDM ke depannya,” pungkas Fathan.(rn)
Sumber : https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1047352/aceh-punya-modal-bangun-industri-baja




