
Ikatan Alumni Teknik Pertambangan (IKATA) UPN Veteran Yogyakarta menggelar Seminar Nasional Pertambangan bertema “Dampak Ganda dan Penanganan Konflik Industri Pertambangan Indonesia Menuju Transformasi Ekonomi Berkelanjutan” di Jakarta, Kamis, 27 November 2025.
Ketua IKATA UPN Veteran Yogyakarta, Catur Gunadi, yang juga merupakan Sekretaris Umum PERHAPI, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran komunitas alumni dalam memajukan industri tambang nasional.

Seminar ini mengangkat tiga fokus utama, yakni kontribusi ekonomi pertambangan terhadap penerimaan negara, isu-isu hukum dan kompleksitas regulasi, serta penerapan tata kelola lingkungan dan sosial atau environmental, social, and government (ESG) untuk menjaga kesinambungan industri.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno dalam sambutannya memaparkan posisi strategis sektor pertambangan dalam perekonomian nasional. Ia menyebut industri mineral dan batubara saat ini menyumbang lebih dari 10,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Angka ini cukup tinggi, dan ke depan industrialisasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi,” ujarnya.
Tri menjelaskan saat ini kontribusi sektor industri Indonesia masih di bawah 20%. Untuk mencapai visi Indonesia Maju 2045, porsi industri harus berada di atas 25% dari PDB. Ia juga memaparkan kondisi terkini sejumlah komoditas strategis, termasuk nikel, bauksit, dan timah.


Beberapa pengurus PERHAPI hadir di kegiatan seminar ini seperti Bapak Resvani, Wakil Ketua Umum PERHAPI, para wakil sekretaris Umum PERHAPI (Sdr Ichsan, Sdr Bisma, Sdr Deni, Sdr Rangga), Bapak Anas Moelyanto dan Bapak Zainudin Lubis.

Seminar ini diharapkan memperkuat dialog antara pemerintah, akademisi, asosiasi, dan industri untuk mendorong transformasi pertambangan yang lebih berkelanjutan sekaligus mendorong kontribusi sektor ini terhadap ekonomi nasional.
Instructor
