Komoditas tambang Batubara menjadi penyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terbesar, 69% dari total Rp 120 triliun sampai Nov 25. Indonesia juga merupakan negara eksportir batubara thermal terbesar didunia,hingga mencapai volume ekspor sebesar lebih dari 500 juta ton, sementara konsumsi domestik di kisaran 230 juta ton, terutama untuk memenuhi kebutuhan sumber pembangkit listrik PLN sebesar 60%.
Pada saat ini terjadi penurunan permintaan batubara terutama dari negara China dan India yang merupakan 2 negara importir batubara terbesar dari Indonesia. Trend penurunan permintaan ini terjadi seiring dengan upaya transisi energi yang mulai meninggalkan batubara beralih ke sumber energi lain, adanya peningkatan volume produksi batubara dari dalam negeri mereka sendiri, selain juga adanya pelemahan industry sebagai akibat dari situasi geopolitik dunia yg tidak menentu.
Menilik kondisi permintaan pasar diatas, maka produksi batubara nasional diperkirakan akan menurun hingga kurang dr 700 juta ton pada tahun 2026.
Kondisi ini tentu berat bagi perusahaan tambang batubara maupun perusahaan kontraktrnya karena harus mengurangi produksinya, apalagi bagi para produsen yg baru beroperasi di 3-5 th terakhir. Belum lagi adanya wacana dari pemerintah untuk memberlakukan bea keluar bagi komoditas batubara mulai tahun 2026 yang ditengarai akan semakin menambah beban biaya bagi para produsen batubara.

Sehubungan dengan hal diatas, PERHAPI PD DIY – Jateng bekerjasama dengan PERTAABI menyelenggarakan talkshow dengan tema Indonesia Coal Outlook 2026 pada hari Jumat tanggal 12 Desember dengan menampilkan pemateri Bapak Ardhi Ishak, Ketua Bidang hubungan Industri dan Asosiasi Industri PERHAPI serta Bapak Tommy Wisudawan dari PERTAABI, yang memberikan pandangan dan insight nya terhadap kondisi pertambangan batubara di tahun 2026.
Instructor
