Gebrakan B50 (6): Bisakah B50 Menahan Inflasi dan Menjaga Harga Pangan?

Gebrakan B50 (6): Bisakah B50 Menahan Inflasi dan Menjaga Harga Pangan?

Jakarta, Beritasatu.com – Ketika harga minyak dunia melonjak, dampaknya tidak hanya dirasakan di SPBU. Biaya transportasi naik, ongkos distribusi membengkak, dan harga berbagai kebutuhan pokok ikut terdorong. Karena itu, pemerintah menilai implementasi biodiesel B50 bukan hanya kebijakan energi, tetapi juga bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Dengan semakin besarnya porsi biodiesel berbasis minyak sawit dalam bauran energi nasional, ketergantungan terhadap impor solar diharapkan terus berkurang. Ketika kebutuhan impor menurun, tekanan terhadap devisa dan nilai tukar rupiah juga diproyeksikan ikut mereda.

Analis Senior Bank Indonesia Aries Purnomohadi mengatakan, hubungan antara kebijakan energi dan stabilitas harga sangat erat, terutama ketika dunia menghadapi gejolak harga minyak akibat konflik geopolitik maupun gangguan pasokan energi.

Menurut dia, lonjakan harga minyak dunia biasanya akan meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Dalam kondisi tersebut, peningkatan penggunaan biodiesel domestik dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor sehingga tekanan dari gejolak harga minyak dunia dapat ditekan,” ujarnya.

Aries menjelaskan inflasi tidak hanya dipengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga perkembangan sektor riil. Salah satu faktor yang sering memicu inflasi adalah kenaikan biaya energi.

Karena itu, semakin besar kebutuhan energi yang dipenuhi dari sumber domestik, semakin kecil pula sensitivitas perekonomian Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak internasional.

Menjaga Stabilitas Rupiah

Selain berpotensi menahan inflasi, implementasi B50 juga dinilai dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Selama ini, impor bahan bakar minyak membutuhkan devisa dalam jumlah besar sehingga permintaan terhadap dolar Amerika Serikat tetap tinggi. Ketika kebutuhan impor berkurang, tekanan terhadap permintaan valuta asing juga diperkirakan ikut menurun.

“Kebijakan energi dan kebijakan moneter tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” kata Aries.

Menurut dia, kombinasi antara penguatan sektor riil melalui pemanfaatan energi domestik dan kebijakan moneter Bank Indonesia akan membuat fundamental ekonomi Indonesia lebih tahan menghadapi tekanan eksternal.

Harga Pangan Ikut Terjaga

Aries juga menilai kekhawatiran bahwa peningkatan konsumsi biodiesel akan mengganggu pasokan minyak sawit untuk kebutuhan pangan belum tentu terjadi.

Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan kapasitas produksi yang masih jauh di atas kebutuhan domestik.

Selama kebijakan domestic market obligation (DMO) dijalankan secara konsisten dan kebutuhan pangan tetap menjadi prioritas, pengembangan biodiesel dinilai tidak harus mengurangi ketersediaan minyak goreng di dalam negeri.

Sebaliknya, peningkatan hilirisasi sawit justru dapat menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat industri pengolahan di dalam negeri.

Dampak Positif Bergantung pada Implementasi

Ekonom Universitas Negeri Surabaya Hendry Cahyono mengatakan manfaat ekonomi dari implementasi B50 sangat bergantung pada kesiapan pemerintah menjaga pasokan bahan baku, kapasitas produksi biodiesel, serta skema pembiayaan program.

“Kalau yang disampaikan demikian, memang itu akan menurunkan angka impor. Salah satu dampaknya nanti juga bisa terhadap apresiasi nilai tukar rupiah,” ujar Hendry.

Menurut dia, pemanfaatan energi domestik melalui biodiesel merupakan langkah penting memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, pengembangan energi alternatif tetap harus dilakukan agar Indonesia tidak bergantung pada satu jenis sumber energi.

Industri Masih Menghitung Biaya

Di sisi lain, pelaku industri masih mencermati dampak penggunaan B50 terhadap efisiensi operasional.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengatakan hasil analisis sejumlah uji coba menunjukkan konsumsi bahan bakar B50 pada alat berat pertambangan berpotensi lebih tinggi sekitar 7% hingga 10% dibandingkan B40.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya operasional karena bahan bakar menyumbang sekitar 30% hingga 35% dari total biaya operasional perusahaan tambang.

“Penggunaan B50 ini ditengarai membuat penggunaan bahan bakar lebih boros sekitar 7%-10% dibandingkan penggunaan B40. Ini berarti ada tambahan biaya kembali,” katanya.

Tambahan biaya tersebut terutama dirasakan sektor non-public service obligation (non-PSO), seperti pertambangan, perkebunan skala besar, dan kendaraan komersial yang menggunakan bahan bakar nonsubsidi.

Berbeda dengan sektor PSO yang memperoleh dukungan insentif, pelaku usaha non-PSO tetap harus membeli biodiesel dengan harga komersial sehingga efisiensi operasional menjadi perhatian utama.

Menjaga Keseimbangan

Implementasi B50 diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui pengurangan impor energi, penguatan nilai tukar rupiah, dan pengendalian inflasi.

Namun, manfaat tersebut akan sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan makroekonomi dan efisiensi dunia usaha. Sebab, jika biaya operasional di sektor-sektor produktif meningkat signifikan, sebagian manfaat ekonomi yang diharapkan dari B50 dapat berkurang.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/3012874/gebrakan-b50-6-bisakah-b50-menahan-inflasi-dan-menjaga-harga-pangan