Industri Tambang Nasional Tertekan Kebijakan dan Dinamika Global

Industri Tambang Nasional Tertekan Kebijakan dan Dinamika Global

Industri pertambangan nasional menghadapi tekanan kebijakan dan dinamika global di tengah prospek kenaikan permintaan mineral kritis hingga 2030. Situasi ini dinilai berpotensi memengaruhi minat investasi serta arah pengembangan sektor tambang ke depan.

Ketua Umum PERHAPI Sudirman Widhy Hartono mengatakan kegiatan Workshop Mining for Journalist menjadi wadah berbagi informasi perkembangan terkini sektor pertambangan. Ajang ini sekaligus menjadi wadah tukar pengetahuan antara pengurus dan wartawan.

“Kegiatan ini sudah dimulai pada tahun 2023 dan kemudian secara rutin setiap tahun dilaksanakan,” kata Sudirman dalam pembukaan Workshop Mining for Journalist keempat di Jakarta, seperti dikutip dari keterangannya, Jumat (13/2/2026).

Sudirman menjelaskan, tantangan industri tidak hanya datang dari dinamika global, tetapi juga dari dalam negeri. Munculnya sejumlah kebijakan baru di sektor pertambangan dan sektor lain disebut memberi dampak langsung terhadap dunia usaha tambang.

Beberapa kebijakan tersebut antara lain pengembalian persetujuan RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun, pengurangan kuota produksi batu bara dan nikel, isu langkah Satgas PKH, penerapan B50, hingga rencana pengambilalihan tambang emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources.

Menurut Sudirman, PERHAPI bersama asosiasi pertambangan hulu dan hilir terus berperan sebagai mitra pemerintah dengan memberikan masukan konstruktif bagi kemajuan usaha pertambangan.

Prospek Mineral Kritis Meningkat

Prof. Irwandy Arif menyoroti prospek mineral kritis di tengah transisi energi. Ia menyebut permintaan mineral kritis hingga 2030 diperkirakan meningkat.

“Demand mineral kritis sampai 2030 naik semua,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan, kondisi yang tidak stabil bisa membuat investor menahan diri. Jika pemerintah dan pelaku industri tidak memiliki kesamaan pandangan, peluang besar tersebut dikhawatirkan bisa terlewat.

Irwandy juga menyinggung pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur. Ia menjelaskan bahwa proyek tengah dijalankan oleh Antam, meski sebagian besar kendaraan listrik saat ini menggunakan baterai LFP, sementara di Indonesia direncanakan berbasis NMC (nikel, mangan, cobalt).

Pengembangan Industri Berbasis Mineral Strategis Belum Optimal

Wakil Ketua Umum PERHAPI Resvani menekankan pentingnya mineral kritis, mineral strategis, serta pengembangan material maju sebagai fondasi pertumbuhan industri menuju Indonesia Emas 2045. Menurut dia, perubahan geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan mineral untuk energi bersih, teknologi tinggi, serta manufaktur membuka peluang strategis bagi Indonesia.

Namun, pengembangan industri berbasis mineral strategis dinilai belum optimal. Rendahnya eksplorasi, keterbatasan hilirisasi yang masih di tahap primer, hingga ketergantungan impor material maju menjadi sejumlah tantangan.

Resvani menilai sektor mineral dan batu bara harus diposisikan sebagai instrumen strategis negara, tidak semata berorientasi pada penerimaan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan dan kepastian berusaha.

Pembahasan Industri Pertambangan dalam Workshop

Sesi kedua workshop menghadirkan F.H Kristiono yang membahas peluang dan tantangan industri batu bara, Muhammad Toha memaparkan dinamika pertambangan mineral, dan Ardhi Ishak mengulas prospek usaha jasa pertambangan.

ESG dalam Industri Pertambangan

Di sesi ketiga, Tonny Gultom menyoroti perkembangan ESG di tingkat global dan nasional.

“Industri pertambangan beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompleks dimana keberlanjutan, tanggung jawab sosial dan tata kelola berkelanjutan sangat penting,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan prinsip ESG dapat meningkatkan citra positif sekaligus menarik investor.

Ekonomi Hijau Pertambangan

Budi Hartono kemudian memaparkan langkah PERHAPI mendorong ekonomi hijau pertambangan melalui kajian Ekonomi Hijau Pertambangan (EHP), termasuk pemanfaatan areal bekas tambang, kegiatan PPM, dan optimalisasi DBH pertambangan bagi masyarakat lingkar tambang.

Presentasi ditutup oleh Andi Erwin Syarif yang kembali menegaskan peran sektor pertambangan dalam pembangunan regional. Ia mengatakan industri pertambangan harus dipandang sebagai katalis dan alat transformasi pembangunan, bukan sekadar penopang jangka panjang.

Berikut adalah perkiraan peningkatan demand mineral kritis hingga tahun 2030:

Kondisi yang tidak stabil dapat membuat investor menahan diri. Pemerintah dan pelaku industri perlu memiliki kesamaan pandangan agar peluang besar tidak terlewat.

Sumber : https://www.asatunews.co.id/industri-tambang-tertekan-kebijakan