Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai kepastian perizinan dan birokrasi menjadi faktor penting untuk mempercepat realisasi investasi hilirisasi di Indonesia. Hal ini dikemukakan menyusul peluncuran 11 proyek industri senilai Rp180 triliun di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Ketua Dewan Penasihat Perhapi Rizal Kasli mengatakan pemerintah perlu menghilangkan hambatan perizinan yang berpotensi menunda pelaksanaan proyek. Menurutnya, ketidakpastian tersebut dapat membuat investor mengalihkan modal ke negara lain yang menawarkan proses perizinan lebih mudah dan birokrasi lebih efisien.
“Indonesia sudah terkenal dengan hambatan tersebut, sehingga banyak investasi yang molor beberapa tahun akibat hambatan tersebut,” kata Rizal kepada Bisnis, dikutip Rabu (14/10/2026).
Rizal mengatakan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang dapat mendukung pengembangan industri manufaktur, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga panel surya. Untuk baterai kendaraan listrik, misalnya, Indonesia memiliki nikel, kobalt, dan mangan, meskipun belum memiliki sumber daya litium yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut.
Selain baterai, mineral dalam negeri juga dapat digunakan untuk mendukung industri kendaraan listrik dan panel surya atau fotovoltaik. Menurut Rizal, ketersediaan bahan baku tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat rantai pasok industri di dalam negeri.
“Untuk kendaraan listrik misalnya Indonesia memiliki aluminium, nikel, besi, tembaga dan timah. Untuk fotovoltaik Indonesia juga memiliki mineral seperti silika, tembaga, timah dan aluminium. Produk antara yang dihasilkan bisa diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri [DMO] seperti yang diberlakukan untuk batu bara saat ini,” jelasnya.
Dia menilai pengembangan industri hilir dapat menarik investasi di sektor pendukung, termasuk pabrik yang memproduksi komponen hingga barang jadi. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berhenti pada pengolahan mineral, tetapi juga mendorong pengembangan industri manufaktur yang lebih luas.
“Dengan munculnya industri hilir ini akan menjadi trigger industri lainnya masuk sebagai industri pendukung dan pabrikan-pabrikan untuk memproduksi produk jadi,” katanya.
Rizal menilai pengembangan industri manufaktur di IWIP menjadi langkah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertambangan. Produk antara yang dihasilkan dari pengolahan mineral dapat dilanjutkan menjadi barang jadi, seperti baterai kendaraan listrik, mobil dan truk listrik, kapal, pesawat, hingga peralatan telekomunikasi dan pertahanan.
“Walaupun masih ada sebagian komponen atau part yang masih diimpor. Ini suatu langkah yang sangat maju dan fenomenal dimana industri Indonesia bisa menghasilkan produk jadi,” kata Rizal.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi di kawasan IWIP sekaligus melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik pada Kamis (8/10/2026). Peluncuran tersebut menandai pengembangan hilirisasi dari pengolahan dan pemurnian mineral menuju produksi barang dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dari 11 proyek yang diluncurkan, empat telah memasuki tahap komersialisasi yang ditandai dengan ekspor perdana. Keempatnya meliputi PT Blue Sparking Energy yang bergerak di bidang material baterai kendaraan listrik, PT REPT Battero Energy Indonesia yang memproduksi baterai kendaraan listrik, PT Pioneer Aluminium Industries yang memproduksi aluminium elektrolitik, serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat berbasis listrik.
Sementara itu, tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan. Proyek tersebut meliputi PT Guang Ching Nickel Cobalt untuk produksi material baterai, PT Inno Prima Material untuk separator baterai, PT Tinci Materials Indonesia untuk elektrolit baterai, PT Weda Bay Aluminium untuk pembangunan smelter aluminium, serta PT Bintang Karya Aluminium untuk fasilitas peleburan aluminium.
Dua proyek lainnya bergerak di sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan, yakni PT Foton Guangqing Motor Indonesia yang berfokus pada produksi truk listrik (electric dump truck) serta PT Flatsolar Energy Indonesia yang memproduksi kaca fotovoltaik sebagai komponen panel surya.




