Korsel Pensiunkan PLTU: RI Gigit Jari? Ekspor Batu Bara Terancam Runtuh!

Korsel Pensiunkan PLTU: RI Gigit Jari? Ekspor Batu Bara Terancam Runtuh!

BISNIS MARKET – Kabar buruk datang dari Negeri Ginseng! Korea Selatan (Korsel) memutuskan untuk mempensiunkan dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

Keputusan ini tentu saja membuat para pelaku usaha tambang di Indonesia ketar-ketir. Mengapa demikian?

Korsel Tinggalkan Batu Bara: Mimpi Buruk Ekspor RI?

Korea Selatan, yang selama ini menjadi salah satu pasar ekspor batu bara terbesar bagi Indonesia, kini berkomitmen untuk menghentikan operasional total 41,2 gigawatt (GW) kapasitas PLTU.

Jumlah ini setara dengan 60 persen emisi sektor kelistrikan mereka, atau sekitar 156 juta metrik ton CO2 ekuivalen.

Langkah ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi Indonesia. Pasalnya, ekspor batu bara ke Korea Selatan menyumbang kontribusi yang signifikan bagi devisa negara.

Perhapi Wanti-Wanti: Indonesia Bisa Kehilangan Pasar 25 Juta Ton!

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menilai bahwa keputusan Korea Selatan ini akan berdampak signifikan bagi Indonesia dalam jangka panjang.

“Dalam dua tahun terakhir, volume ekspor batu bara Indonesia ke Korea Selatan di kisaran 25–26 juta ton per tahun atau sekitar 4,8 dari total ekspor nasional,” ujar dilansir dari situs web Perhapi yang diakses pada (3/12).

Sudirman menambahkan, dengan bergabungnya Korea Selatan ke Powering Past Coal Alliance (PPCA) pada COP30 di Brasil, Indonesia berpotensi kehilangan pasar sekitar 25 juta ton per tahun.

China Juga Kurangi Impor: Double Trouble untuk RI!

Kabar buruk tak hanya datang dari Korea Selatan. Ekspor batu bara ke China, yang selama ini menjadi andalan Indonesia, juga mengalami penurunan.

Hal ini disebabkan karena Negeri Tirai Bambu ini pun telah meningkatkan produksi batu bara domestik mereka.

Dengan dua pukulan telak ini, Indonesia harus bersiap menghadapi tantangan yang semakin berat di pasar global.

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia? Selamatkan Ekonomi atau Lindungi Lingkungan?

Di tengah ancaman penurunan ekspor batu bara, Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit. Di satu sisi, Indonesia perlu menjaga stabilitas ekonomi dan devisa negara.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki komitmen untuk mengurangi emisi karbon dan melindungi lingkungan.

Lalu, apa yang harus dilakukan Indonesia? Apakah kita harus terus mengandalkan batu bara, atau beralih ke energi terbarukan?

Sudirman Beri Solusi: Utamakan Penggunaan Batu Bara Domestik!

Sudirman Widhy mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap target produksi batu bara nasional.

Menurutnya, produksi yang terlalu agresif berisiko tidak terserap oleh pasar dan memicu penurunan harga.

“Ke depan akan lebih baik jika penggunaan batu bara domestik lebih diutamakan, terutama untuk penyediaan energi dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Selain itu, Sudirman juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk mengurangi emisi dari penggunaan batu bara.

Indonesia di Persimpangan Jalan: Pilih Masa Depan Cerah atau Terjebak di Masa Lalu?

Keputusan Korea Selatan untuk meninggalkan batu bara adalah sinyal yang jelas bahwa dunia sedang bergerak menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Indonesia tidak bisa lagi berdiam diri dan mengabaikan perubahan ini.

Kita harus segera beradaptasi dan berinvestasi dalam energi terbarukan. Jika tidak, kita akan tertinggal dan kehilangan peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Sumber : https://www.bisnismarket.com/korsel-pensiunkan-pltu-ri-gigit-jari-ekspor-batu-bara-terancam-runtuh