Mengubah Cadangan Raksasa Mineral Menjadi Global Value Chain

Mengubah Cadangan Raksasa Mineral Menjadi Global Value Chain

JAKARTA, investor.id – Memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah merupakan privilege bagi Indonesia. Namun, itu saja belum cukup. Negara ini harus dipacu untuk keluar dari jebakan eksportir komoditas mentah menuju era industrialisasi yang terintegrasi penuh dari hulu ke hilir.

Selama bertahun-tahun nilai ekonomi dari porsi cadangan raksasa tersebut masih bertumpu pada penjualan komoditas mentah. Ketergantungan ini membuat kinerja sektor pertambangan nasional rentan, terutama terhadap fluktuasi harga global. Karenanya, sektor pertambangan dituntut tidak lagi sekadar meningkatkan volume produksi dan ekstraksi, melainkan bertransformasi menjadi platform untuk membangun daya saing industri (industrial competitiveness) serta penguatan rantai nilai terpadu (integrated va

Pengamat Pertambangan yang juga Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Andi Erwin Syarif kepada Investor Daily, Kamis (17/09/2026) mengatakan, sektor pertambangan merupakan salah satu engine penting pertumbuhan ekonomi nasional. Namun begitu perlu dioptimalkan, tidak cukup dengan peningkatan produksi, mineral extraction dan hilirisasi, tapi bagaimana menjadi platform untuk menciptakan industrial competitivenes, bergeser ke integrated value chain.

Diambil contoh dari bauksit ke alumina lalu menjadi aluminium, juga nikel dengan HPAL/RKEF, tembaga, hingga ekosistem EV, ataupun RRE sebagai bagian dari critical/strategic mineral untuk RNE, Electronic Application, hingga industri pertahanan.

“Paling penting dampaknya, bukan sekedar economic engine nasional, tetapi menjadi regional development platform, membantu daerah tumbuh berkembang secara berkualitas,” ujarnya.

Mengubah Cadangan Raksasa Mineral Menjadi Global Value Chain
Produksi bijin nikel. (Ilustrasi: Investor Daily)

Dia juga mengingatkan tentang satu hal penting yakni perlunya human capital transformation. “Hilirisasi membutuhkan kompetensi yang andal. Tidak hanya tambang, tetapi penguasaan teknologi di bidang metalurgi, advanced material, process engineering, AI automation, hingga aspek managerial terkait ESG, risk management, commercial capability dan lainnya. Hal ini membutuhkan nasional mining talent ecosystem, kerjasama dengan universitas, lembaga penelitian, perusahaan global, hingga technology leader. Dan jika mengkaji faktor geoeconomic-politics, kita butuh fast-track human capital development, tidak bisa pendekatan business as usual, dimana talent harus lebih cepat daripada perubahan industrinya,” paparnya.

Prinsipnya, lanjut Erwin, siapa yang punya cadangan, seharusnya menguasai global value chain.

Dalam acara HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9) lalu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut bahwa hilirisasi tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas tambang, tetapi juga menyangkut kemandirian industri dan posisi strategis Indonesia.

“Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, ketahanan energi juga ditentukan apakah kita menguasai bahan baku, teknologi rantai pasok, dan juga dari industri energi tersebut,” kata T

Menurut dia, sektor pertambangan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 9%-12,5%. Dari sisi penerimaan negara, subsektor minerba juga menunjukkan kontribusi yang signifikan. Hingga Agustus 2026, tercatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor minerba telah mencapai Rp108,13 triliun, dari target tahun 2026 sebesar Rp133,9 triliun. Capaian tersebut, kata Tri, menunjukkan peran penting subsektor minerba dalam mendukung perekonomian nasional.

Mengubah Cadangan Raksasa Mineral Menjadi Global Value Chain
Perkembangan PNBP SDA Nonmigas. (Sumber: APBN KiTa edisi April 2026)

Namun, kontribusi pertambangan tidak berhenti pada penerimaan negara. Tri menilai hilirisasi menjadi salah satu mesin transformasi sektor mineral karena mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Pengembangan industri pengolahan juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Menurut dia, hilirisasi telah diarahkan untuk membangun berbagai industri strategis, mulai baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, logam mulia hingga berbagai produk turunan mineral lainnya.

Kebutuhan energi yang semakin besar juga akan meningkatkan permintaan terhadap sejumlah mineral. Tembaga, misalnya, menjadi salah satu bahan penting dalam jaringan dan distribusi listrik. Tri mengatakan kebutuhan terhadap tembaga akan semakin besar seiring meningkatnya konsumsi listrik dan pembangunan infrastruktur energi. Pada saat yang sama, tantangan dalam pengelolaan komoditas tersebut dapat memengaruhi pasokan dan harga.

Pemerintah juga mendorong perbaikan tata kelola sejumlah komoditas mineral, termasuk timah. Tri menyebut perbaikan tata kelola dan kebijakan terkait komoditas tersebut telah memberikan ruang bagi peningkatan nilai ekonominya.

Peran MIND ID

Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mengemban mandat strategis sesuai Pasal 33 UUD 1945 untuk memastikan kekayaan alam dikelola bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

MIND ID berperan sebagai perpanjangan tangan negara dalam pengelolaan sumber daya alam mineral guna mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus memperkuat tata kelola sektor pertambangan nasional.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyampaikan bahwa potensi ekonomi sektor pertambangan Indonesia sangat besar, dan dapat terus diperkuat pesanya guna memperkuat kontribusi penerimaan negara.

Sebagai perusahaan, MIND ID terus memperkuat perannya dalam mengoptimalkan pengelolaan sumber daya mineral nasional melalui penguatan produksi, hilirisasi, perbaikan tata kelola, dan pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi.

“Optimalisasi penerimaan negara akan semakin optimal melalui pengelolaan sumber daya alam yang dikelola langsung melalui entitas milik Negara. Dengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya mineral yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” jelasnya dalam RDP bersama Komisi XII DPR RI.

Berdasarkan laporan Keberlanjutan perseroan tahun 2025, MIND ID mampu mencatat Generated Economic Value sebesar Rp185,16 triliun, dengan Distributed Economic Value sebesar Rp180,30 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya aliran manfaat ekonomi yang disalurkan kepada berbagai pemangku kepentingan, termasuk negara, mitra kerja, dan masyarakat.

Kontribusi kepada negara juga tercermin dari total pembayaran kewajiban pemerintah yang mencapai Rp32,82 triliun, yang terdiri dari dividen, pajak, dan kewajiban lainnya.

Lebih lanjut, Maroef menekankan bahwa masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat kontribusi MIND ID dalam pengelolaan komoditas strategis nasional. Karena itu, Grup MIND ID terus memperbesar kapasitas produksi sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek hilirisasi yang menjadi fondasi penciptaan nilai tambah nasional.

Grup MIND ID mengembangkan berbagai proyek strategis, mulai dari ekosistem bauksit-alumina-aluminium terintegrasi, pemurnian dan pencetakan emas logam mulia, hingga ekosistem baterai kendaraan listrik. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat nilai tambah domestik, memperluas basis industri nasional, dan semakin meningkatkan kontribusi ekonomi bagi negara.

Selain berkontribusi melalui penerimaan negara, Grup MIND ID juga menjalankan fungsi strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional. Bukit Asam, sebagai anggota Grup MIND ID secara konsisten memenuhi bahkan melampaui kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), sehingga memastikan pasokan batu bara bagi kebutuhan pembangkit listrik nasional tetap terjaga.

Peran tersebut menunjukkan bahwa MIND ID tidak hanya berkontribusi melalui penerimaan negara, tetapi juga menjalankan mandat strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan masyarakat memperoleh akses listrik yang andal dan terjangkau.

Maroef menegaskan bahwa MIND ID memiliki kesiapan dari sisi sumber daya manusia, teknologi, pengalaman operasional, serta jaringan industri untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam nasional.

Karena itu, penguatan peran BUMN di sektor mineral tidak semata ditujukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, melainkan untuk memastikan lebih banyak nilai tambah, lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan penerimaan negara dapat tercipta di dalam negeri.

“Kami siap menjalankan mandat yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya alam nasional. Dengan sinergi antara pemerintah, DPR, dan MIND ID, kami meyakini kekayaan mineral Indonesia dapat menjadi fondasi yang semakin kuat bagi memperkuat kedaulatan ekonomi dan kemakmuran rakyat,” jelas Maroef.

Dalam kesimpulan rapat, Komisi XII DPR RI menyatakan dukungan terhadap berbagai upaya yang dijalankan MIND ID dan seluruh anggota grup untuk memperkuat tata kelola pertambangan nasional, mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, serta mengoptimalkan manfaat sumber daya alam bagi negara.

Babak Baru

Division Head of Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan bahwa industri pertambangan nasional memang perlu memasuki babak baru yang mampu menghadirkan nilai tambah berlipat ganda guna mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terlebih, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari negara pengekspor komoditas menjadi negara industri yang terintegrasi dengan pemanfaatan sumber daya alamnya sendiri.

“Pemerintah menugaskan MIND ID untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses ekstraksi. Sumber daya alam tersebut harus menjadi fondasi industrialisasi yang mampu memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia,” kata Selly dalam keterangan pers.

Selly menjelaskan, Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID hadir sebagai bagian dari upaya membuka babak baru tersebut sekaligus menjawab stagnasi pengembangan industri pertambangan yang selama ini terjadi. Indonesia perlu memperkuat pengolahan hingga menghasilkan produk dan bahan baku yang selaras dengan kebutuhan industri dalam negeri.

Di saat yang sama, Indonesia juga perlu memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai pelaku industri dan investor internasional untuk mempercepat penguasaan teknologi, serta memperluas akses pasar.

Selain itu, penciptaan motor pertumbuhan ekonomi baru harus dipercepat melalui integrasi berbagai rantai nilai mineral strategis. Maka, sektor pertambangan harus menjadi ekosistem yang saling terhubung dan saling memperkuat.

Menanggapi hal itu, Erwin menilai MIND ID mempunyai satu keunggulan yang tidak dimiliki banyak tambang di dunia yaitu mineral portofolio integration, sehingga secara strategis dapat membangun multi-mineral industrial ecosystem, bukan hanya single commodity strategy

“Terdapat ruang besar untuk memperkuat sinergi dan integrasi antar-entitas MIND ID. Bisa disebut integrated mining ecosystem, yang harus lebih efisien, kompetitif, dan menciptakan greater value untuk bangsa ini,” katanya.

Menurut dia, dengan total konsolidasi aset sekitar Rp 300 triliun, dipastikan MIND ID mempunyai strategic mineral portofolio. Tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan portofolio tersebut secara end-to-end, hulu ke hilir, dari resource development, processing, downstream, technology, energy, kapasitas infrastruktur hingga penguasaan terhadap pasar.

“Poinnya, setiap ton resources dapat menghasilkan maximun economic dan sustainable value bagi negara,” tegasnya.

Saat ini, menurut Erwin, MIND ID perlu memperkuat technology leadership, penguasaan global value chain, global market access dan memiliki world-class human capital. Poinnya, MIND ID memiliki strategic space yang unik untuk menjadi a leading global and mineral industry player, dengan membangun jalan sendiri sesuai mandat yang diberikan negara.

Mengubah Cadangan Raksasa Mineral Menjadi Global Value Chain
Proyek hilirisasi PT Vale Indonesia Tbk

Dengan demikian, menurut Erwin, MIND ID tidak juga harus mengikuti model global mining companies yang lain, melainkan lebih mengoptimalkan keunggulan strategic mineral portfolio, resource mineral base, downstreaming, human capital, industrial ecosystem dan geoeconomic position dalam satu platform.

Hal senada dikemukakan Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar Dewi Yustisiana. Dia mendorong MIND ID dan seluruh perusahaan anggota holding terus meningkatkan kinerja serta berkembang menjadi perusahaan pertambangan unggulan di bidang masing-masing. Dikatakan bahwa pengelolaan komoditas strategis nasional harus memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi negara dan masyarakat.

“Perusahaan-perusahaan dalam Grup MIND ID mengelola komoditas yang sangat strategis. Kita berharap setiap perusahaan mampu menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing, memiliki daya saing global, dan menjadi penggerak utama hilirisasi sumber daya alam Indonesia,” kata Dewi dalam pernyataan tertulisnya.

Menurut Dewi, peningkatan kinerja tidak boleh hanya dilihat dari pendapatan dan laba, tetapi juga mencakup produktivitas, efisiensi operasional, penerimaan negara, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, tata kelola, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah. Setiap perusahaan harus memiliki target yang jelas dan terukur, disertai penguatan sinergi Grup MIND ID dari kegiatan eksplorasi dan produksi hingga pengolahan, pemurnian, pemasaran, serta pembangunan rantai pasok industri nasional.

Dewi menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci perbaikan kinerja perusahaan dan keberhasilan hilirisasi minerba. Transformasi industri pertambangan membutuhkan tenaga kerja yang menguasai teknologi pengolahan mineral, digitalisasi, otomatisasi, keselamatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan manajemen industri modern.

“Hilirisasi bukan hanya membangun smelter atau fasilitas pengolahan, tetapi juga harus disertai penguasaan teknologi dan peningkatan kemampuan tenaga kerja. Karena itu, MIND ID perlu memperkuat pendidikan dan pelatihan, sertifikasi kompetensi, regenerasi tenaga ahli, riset dan inovasi, kerja sama dengan perguruan tinggi, serta pengembangan talenta secara terintegrasi,” ujarnya.

“Dengan SDM yang kompeten, profesional, dan menguasai teknologi, perusahaan-perusahaan Grup MIND ID dapat meningkatkan kinerja, memperkuat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama industri mineral dunia,” kata legislator asal daerah pemilihan Sumsel II itu.

Sumber : https://investor.id/business/454553/mengubah-cadangan-raksasa-mineral-menjadi-global-value-chain/4