Perhapi Khawatir Kuota Produksi Batu Bara 2026 Segera Habis

Perhapi Khawatir Kuota Produksi Batu Bara 2026 Segera Habis

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengkhawatirkan kuota produksi pada sejumlah tambang batu bara akan segera habis pada Kamis (30/4/2026). Hal ini dipicu oleh pemangkasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar 25 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kementerian ESDM menyetujui kuota produksi batu bara 2026 sekitar 600 juta ton, merosot tajam dari realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Penurunan ini dinilai berdampak langsung pada kelangsungan operasional perusahaan jasa pertambangan di Indonesia.

 

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen menjelaskan bahwa dampak pengurangan kuota ini sangat signifikan bagi industri jasa pertambangan. Menurutnya, potensi volume pekerjaan yang hilang bisa menyentuh angka 1 miliar ton jika dihitung berdasarkan rasio pengupasan lapisan penutup.

“Kalau bicara in-total, bagaimanapun juga 25% itu angka yang sangat besar. Dari sebelumnya 800 [juta ton] menjadi cuma 600 [juta ton], kan 200 juta [juta ton]. Iya [ada potensi kuota produksi tambang habis]. Memang sekarang belum kelihatan ya, tetapi impaknya nanti,” kata Ardhi, Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi.

 

Ardhi menambahkan bahwa karakteristik tambang batu bara berbeda dengan nikel karena memiliki rasio pengupasan (stripping ratio) yang jauh lebih tinggi. Pada komoditas nikel, rasio pengupasan overburden biasanya hanya berkisar 1:1 hingga 1:2.

“Kalau di nikel kan overburden-nya kan ya 1:1 lah, anggap saja atau 1:2. Jadi secara angka juga enggak terlalu besar sebenarnya sih yang paling gede batu bara,” ujar Ardhi, Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi.

Potensi hilangnya volume pekerjaan kontraktor menjadi kekhawatiran utama karena ekstraksi lapisan penutup batu bara bisa mencapai lima hingga tujuh kali lipat dari volume produk. Hal ini membuat tekanan pada sektor jasa tambang menjadi berkali-kali lipat lebih berat.

“Kalau di batu bara kan tadinya 817 juta ton, tetapi itu kan baru produk, dikali overburden-nya kan bisa dikali 5, dikali 6 dari 800, kan gede banget. Nah itulah volume pekerjaan kontraktor gede banget,” ujar Ardhi, Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi.

Kekhawatiran ini berkaca pada kondisi Weda Bay Nickel (WBN) yang melaporkan kuota produksi sebesar 12 juta ton bakal habis pada pertengahan Mei 2026. Perusahaan tersebut terpaksa bersiap melakukan penutupan tambang untuk perawatan sambil menunggu revisi RKAB disetujui pemerintah.

“Permohonan revisi izin peningkatan kapasitas saat ini sedang diajukan oleh PT WBN, menyusul persetujuan RKAB awal yang membatasi produksi bijih nikel sebesar 12 juta metrik ton untuk 2026, yang target produksinya akan tercapai pada pertengahan Mei; tambang tersebut bersiap untuk memasuki masa perawatan dan pemeliharaan pada Mei, sambil menunggu hasil revisi ini,” tulis Eramet, pemegang saham WBN.

Data historis menunjukkan tren produksi batu bara Indonesia terus meningkat secara konsisten sejak 2020 hingga mencapai puncaknya pada 2024. Penurunan drastis pada kuota 2026 menjadi titik balik signifikan dalam kebijakan produksi mineral dan batu bara nasional.

Sumber : https://www.asatunews.co.id/kuota-produksi-batu-bara-habis