PERHAPI: Proses Distribusi dan Lonjakan Permintaan Jadi Sebab Kelangkaan Semen di Aceh

PERHAPI: Proses Distribusi dan Lonjakan Permintaan Jadi Sebab Kelangkaan Semen di Aceh

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Aceh mengungkap proses distribusi dan lonjakan permintaan menjadi penyebab utama kelangkaan semen yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh.

Sekretaris Jenderal PERHAPI Aceh, Muhammad Hardi, mengatakan berdasarkan informasi teknis yang diperoleh melalui diskusi dengan pihak operasional PT Solusi Bangun Andalas (SBA), tidak terdapat kendala pada penambangan bahan baku, proses produksi di pabrik, maupun distribusi yang pada prinsipnya masih berjalan normal.

Bahkan, kapasitas produksi juga tetap berada di kisaran 1,8 juta ton per tahun sehingga tidak ada indikasi penurunan produksi yang menyebabkan kelangkaan di pasar.

“Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi hulu, pasokan bahan baku maupun proses manufaktur masih berada pada kondisi yang terkendali. Bahkan, perusahaan tetap mempertahankan komitmennya tidak menaikkan harga jual semen dari pabrik sepanjang tahun 2026, sehingga gejolak harga yang terjadi di tingkat pengecer tidak secara langsung mencerminkan harga dari produsen,” kata Hardi, Rabu (5/8/2026).

Hardi menilai, meningkatnya kebutuhan semen dipicu tingginya aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, pembangunan sekolah rakyat, proyek pemerintah, pembangunan perumahan, serta kebutuhan masyarakat.

Ketika permintaan meningkat sementara kapasitas pasok relatif tetap, tekanan terhadap rantai distribusi dan harga di tingkat pasar menjadi hal yang tidak terhindarkan.

“Oleh karena itu, kondisi yang dirasakan masyarakat lebih mencerminkan meningkatnya konsumsi dibandingkan terganggunya proses produksi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dari perspektif keilmuan pertambangan, kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa keberlangsungan pembangunan sangat bergantung pada terjaganya pasokan bahan baku mineral dari sektor pertambangan.

“Ketika pengelolaan pertambangan berjalan sesuai kaidah good mining practice, maka industri hilir memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga kontinuitas produksi,” jelasnya.

Untuk itu, Hardi menilai, bahwa ke depan Aceh memiliki potensi sumber daya mineral yang dapat menopang tumbuhnya industri-industri sejenis, sepanjang seluruh proses pengelolaan dilakukan secara bertanggung jawab, memenuhi kaidah teknik pertambangan yang baik, menjaga kelestarian lingkungan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sebab, semakin kuat ekosistem industri berbasis sumber daya mineral yang dikelola secara profesional, maka semakin baik pula ketahanan pasok material strategis bagi pembangunan Aceh.

“Kelangkaan semen hari ini mengajarkan satu hal penting, tambang bukan sekadar aktivitas mengambil mineral dari bumi, tetapi merupakan mata rantai awal yang menopang keberlangsungan industri, pembangunan, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan pertambangan yang baik bukan hanya kebutuhan industri, melainkan investasi bagi ketahanan pembangunan Aceh,” pungkasnya. (*)

Sumber : https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1037387/perhapi-proses-distribusi-dan-lonjakan-permintaan-jadi-sebab-kelangkaan-semen-di-aceh