RM.id Rakyat Merdeka – Persatuan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai upaya hilirisasi mineral di Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena lemahnya pengembangan industri material maju.
Kondisi tersebut membuat industri manufaktur berbasis mineral strategis belum tumbuh optimal, meskipun Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan mineral yang melimpah.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Resvani mengatakan, persaingan global dalam penguasaan mineral kritis dan strategis semakin ketat.
Negara yang mampu menguasai rantai pasok mineral hingga industri material maju akan memiliki posisi strategis dalam industri manufaktur dan teknologi tinggi.
“Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan, tetapi keunggulan itu belum ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif,” kata Resvani dalam acara The 4th Mining Workshop for Journalists yang digagas oleh Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) di Cityloog Hotel, Jakarta, Senin (10/2/2026).

Perhapi menilai kebijakan hilirisasi mineral di Indonesia masih bersifat parsial dan belum tuntas. Kegiatan eksploitasi dinilai belum sepenuhnya mencerminkan integrasi rantai pasok industri hulu-hilir yang berorientasi jangka panjang. Terutama untuk mendukung industri manufaktur berbasis teknologi.
Salah satu kendala utama adalah minimnya kegiatan eksplorasi mineral yang berdampak pada lemahnya data sumber daya dan cadangan. Termasuk di dalamnya data karakteristik bijih serta mineral ikutan yang diperlukan sebagai dasar perencanaan pengembangan industri lanjutan berbasis material strategis.
Selain itu, pengembangan industri material maju dinilai belum menjadi prioritas nasional. Indonesia masih bergantung pada impor material maju yang menjadi komponen utama produk manufaktur bernilai tinggi, seperti pesawat terbang, turbin pembangkit listrik, dan perangkat elektronik.
Resvani mencontohkan, turbin pesawat dan pembangkit listrik membutuhkan material khusus yang mampu bertahan pada suhu ekstrem di atas 1.200 derajat Celsius. Material tersebut dihasilkan melalui teknologi material maju, seperti nickel-based super alloy dan pelapisan mineral tanah jarang, yang hingga kini belum dikembangkan secara optimal di dalam negeri.
Perhapi juga menyoroti belum terbentuknya ekosistem industri yang kuat. Industri pendukung (supporting industry) yang menjadi bagian penting dalam rantai nilai manufaktur masih banyak bergantung pada impor, sehingga manfaat ekonomi dari sektor mineral belum tersebar secara merata.
Dari sisi perencanaan, Perhapi menilai Indonesia belum memiliki strategi jangka panjang yang konsisten. Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) dinilai belum sepenuhnya mencerminkan strategi yang tepat untuk membangun industri yang tangguh dan berdaya saing.
Selain itu, belum terdapat lembaga khusus yang berperan mengawasi dan memastikan implementasi RIPIN berjalan sesuai target.
“Iklim investasi juga masih menjadi tantangan. Indonesia belum optimal menangkap peluang relokasi industri manufaktur dari China, sementara negara-negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Filipina justru lebih cepat memanfaatkannya,” ujar Resvani.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perhapi mendorong percepatan pembentukan regulasi yang fokus pada pengembangan industri material maju.
Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Material telah masuk dalam Program Legislasi Nasional dan diharapkan dapat menjadi landasan pembangunan industri material maju di Indonesia.
Perhapi menilai, tanpa pembenahan menyeluruh mulai dari eksplorasi, pengembangan industri material maju, pembentukan ekosistem industri, perbaikan perencanaan, hingga peningkatan iklim investasi, upaya menjadikan Indonesia sebagai basis industri manufaktur berbasis mineral strategis akan sulit terwujud.
Sekedar info, material maju (advanced materials) merupakan material hasil pengolahan lanjutan dari mineral yang dirancang memiliki sifat khusus dan performa tinggi untuk kebutuhan industri berteknologi tinggi.
Material ini menjadi komponen kunci dalam produk manufaktur bernilai tambah besar, seperti turbin pembangkit listrik, pesawat terbang, kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik, karena memiliki karakteristik unggul seperti tahan panas ekstrem, ringan, kuat, serta memiliki sifat listrik dan magnetik tertentu.
Dalam rantai industri, material maju berada di antara logam dasar dan produk manufaktur akhir. Contohnya meliputi nickel-based super alloy, material baterai, semikonduktor, material komposit, serta material berbasis unsur tanah jarang.
Penguasaan industri material maju dinilai krusial karena menjadi penentu keberhasilan hilirisasi mineral, daya saing industri nasional, serta pengurangan ketergantungan impor, khususnya dalam mendukung pengembangan industri manufaktur dan transisi energi.




