Bisnis.com, JAKARTA – Dua jam menuju tengah malam, Muhammad Aditya masih memacu motor listriknya membelah Ibu Kota Jakarta. Setelah mengantar satu penumpang terakhir ke tempat tujuan, dia mengalihkan rute ke stasiun penukaran baterai.
Sebagai pengemudi ojek online, motor listrik berpengaruh besar dalam menekan biaya operasional harian saat hilir mudik mengantar penumpang. Selain hemat biaya, kendaraan ini dipandang menjadi gaya hidup baru yang lebih ramah lingkungan.
“Saya sampai beberapa kali touring pakai motor [listrik] ini. Seru, enggak ada suaranya, hemat ‘bahan bakar’ pula,” ceritanya kepada Bisnis belum lama ini.
Di Ibu Kota, penggunaan kendaraan listrik bukan lagi hal baru. Selain motor listrik, minat masyarakat pada mobil listrik atau electric vehicle (EV) juga terus menunjukkan geliat pesat dalam lima tahun terakhir.
Pada tahun lalu misalnya, penjualan wholesales battery electric vehicle (BEV) mencapai 103.931 unit. Angka ini naik signifikan dibandingkan dengan setahun sebelumnya yakni 43.188 unit.
Selain itu sepanjang Januari – Mei 2026, penjualan kendaraan berbasis baterai tersebut telah menyentuh 57.087 atau naik 80% dibandingkan dengan periode sama 2024 sebesar 31.709 unit.

Bagi pemerintah, masifnya pemanfaatan kendaraan listrik menjadi suntikan tenaga dalam pengembangan ekosistem kendaraan hijau tersebut.
Sejalan dengan itu, Negara juga telah mempercepat pembentukan ekosistem industri baterai melalui PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesian Battery Corporation (IBC) di bawah kendali BPI Danantara.
Konsorsium tersebut dibentuk oleh empat BUMN yakni Grup holding pertambangan MIND ID lewat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) serta PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).
Antam dan IBC misalnya, telah menjalin kemitraan dengan Zhejiang Hoayou Cobalt Co., Ltd. dalam mempercepat pengembangan hilirisasi nikel dan ekosistem baterai terintegrasi melalui penandatangan framework agreement (FA).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir di Indonesia dengan potensi target kapasitas hingga 20 gigawatt hour (GWh) diikuti dengan investasi mencapai US$6 miliar atau setara Rp108 triliun (kurs Rp18.000 per dolar AS).
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto menerangkan bahwa kerja sama tersebut sejalan dengan mandat yang diterima oleh anggota holding MIND ID tersebut dalam memperkuat penghiliran mineral nasional.
“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Hoayou, kami berkomitmen untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” katanya dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (9/7).
Selain ANTM, penguatan sisi hulu juga dijalankan secara terintegrasi dengan seluruh Anggota Grup MIND ID termasuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Freeport Indonesia, PT Timah Tbk (TINS) hingga PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Sementara itu di level midstream, IBC bersama mitranya telah memulai pengembangan fasilitas cathode active material (CAM) berkapasitas 30.000 ton per tahun di Tanjung Buli, Halmahera, Maluku Utara.
Proyek bernilai investasi US$600 juta atau ekuivalen Rp10,8 triliun ini ditargetkan dapat memulai operasi pada 2028. Adapula pabrik sel baterai CATIB di Karawang, Jawa Barat ditarget mulai beroperasi pada akhir 2026.
Pada fase 1, pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi 6,9 GWh dan dapat mencapai 15 GWh pada fase 2.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan bahwa berbagai kerja sama strategis merupakan langkah penting menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai terintegrasi global.
“IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan,” tuturnya.
Terpisah, Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menambahkan bahwa holding pertambangan pelat merah itu berkomitmen memastikan agenda hilirisasi tidak hanya berjalan, namun memberikan dampak pada perekonomian nasional.
“[Komitmen ini] Sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” katanya.

Persaingan Nyata Industri Baterai
Meski prospek kendaraan listrik di dalam negeri terus bertumbuh, produksi baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) menghadapi persaingan nyata dengan baterai kimia lainnya yakni lithium iron phosphate (LFP).
Sebagai gambaran, katoda baterai NMC tersusun atas kombinasi nikel, mangan, dan kobalt. NMC 662 misalnya terbuat dari katoda yang disusun atas 50% nikel, 22,5% mangan, 22,5% kobalt dan 5% litium.
Sebaliknya, katoda LFP sama sekali tidak mengandung ketiga komponen tersebut dengan komposisi litium 5%, besi 47,5% dan fosfat 47,5%. Bagi Indonesia, litium dan fosfat bukan material tambang yang menguntungkan karena perlu diimpor dari luar negeri.
Kendati menjadi negara dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia, pemanfaatan baterai NMC hanya berkisar 4% dari total penjualan kendaraan listrik pada tahun lalu. Sementara itu sisanya 96% mobil listrik menggunakan baterai LFP.
Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menilai perkembangan teknologi baterai belakangan ini memang berlangsung sangat cepat dimotori oleh industri dari Cina.
Negara itu kata dia telah mengembangkan jenis baterai LFP untuk digunakan pada kendaraan listrik termasuk yang dijual di Indonesia. Bahkan, Beijing disebut-sebut telah mampu memproduksi solid state tanpa nikel dan kobalt dengan jarak tempuh hingga 900 kilometer dengan hanya sekali pengisian daya.
Meski demikian, langkah penghiliran nikel guna mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik mesti terus dipacu untuk meningkatkan nilai tambah dalam pemanfaatan produk hasil pertambangan di dalam negeri.
“Baterai dari nikel ini memiliki densitas yang tinggi dan jarak tempuh yang lebih jauh. Biasanya bisa digunakan untuk kendaraan berat seperti truk dan lain-lain,” katanya.
Rizal turut meyakinkan bahkan penggunaan nikel di masa depan tidak terbatas pada kendaraan listrik. Produk hilir dari nikel juga tetap digunakan untuk industri dirgantara, medical equipments, hingga material bangunan.
Senada, Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan bahwa skema produksi lokal kendaraan termasuk EV menjadi langkah penting dalam pemenuhan tingkat komponen dalam negeri.
Namun demikian, dia juga mendorong agar pemerintah dapat memastikan bahwa setiap investasi memberikan dampak nyata terhadap penguatan industri otomotif di dalam negeri.
Menurutnya, perakitan kendaraan saja belum cukup karena nilai tambah industri akan meningkat apabila pemerintah mampu mendorong pengembangan industri komponen termasuk baterai.
“Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan kebijakan. Persyaratan lokalisasi harus cukup kuat untuk mendorong investasi, tetapi tetap realistis agar Indonesia tetap kompetitif dibanding Thailand dan Vietnam sebagai tujuan investasi otomotif regional,” jelasnya.




