JAKARTA, Investortrust.id – “Dulu saya bisa menghabiskan satu tangki bensin dalam beberapa hari. Sekarang, saya cukup mengisi daya mobil listrik di rumah saat malam, lalu menggunakannya untuk seluruh aktivitas keesokan harinya. Rasanya lebih praktis dan biaya operasionalnya juga lebih hemat,” kata seorang pengguna kendaraan listrikm Rian di kawasan Jakarta Timur saat dihubungi Inevstortrust, Selasa (28/7/2026).
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana kendaraan listrik mulai mengubah pola mobilitas masyarakat Indonesia. Bagi sebagian konsumen, kendaraan listrik bukan lagi sekadar simbol teknologi masa depan, melainkan solusi transportasi yang semakin ekonomis dan ramah lingkungan.
Kehidupan modern memang masih banyak bergantung pada energi fosil. Hampir setiap perjalanan menuju kantor, distribusi logistik, hingga aktivitas industri masih ditopang bahan bakar minyak.
Namun, dunia mulai memasuki babak baru. Kekhawatiran terhadap perubahan iklim, tuntutan pengurangan emisi karbon, serta perkembangan teknologi mendorong pergeseran menuju energi yang lebih bersih. Di tengah perubahan tersebut, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berkembang menjadi simbol transformasi industri otomotif global.
Meski demikian, persaingan industri EV tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan memproduksi kendaraan. Kompetisi kini bergeser menuju penguasaan rantai pasok mineral strategis yang menjadi bahan baku utama baterai. Nikel menjadi salah satu komoditas paling penting karena menjadi komponen utama baterai berteknologi Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang banyak digunakan pada kendaraan listrik berperforma tinggi.
Presiden Prabowo Subianto saat Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap, Rabu (29/4/2026) menyebut Indonesia tidak mau hanya menjual bahan mentah. “Kita ingin mengolahnya di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat,” kata Prabowo
Masih dalam pidato yang sama, Prabowo mengatakan hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk Indonesia bisa lebih makmur. “Kita tidak mau sekadar jual bahan baku, kita mau olah turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Pandangan tersebut relevan dengan strategi Indonesia saat ini. Cadangan nikel yang besar hanya akan menjadi keunggulan apabila mampu diolah menjadi produk bernilai tinggi melalui hilirisasi yang terintegrasi.
Nikel Menjadi Aset Strategis
Transisi energi membuat baterai berkembang menjadi pusat ekosistem industri baru. Selain digunakan pada kendaraan listrik, baterai juga menjadi komponen penting dalam sistem penyimpanan energi yang mendukung pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Untuk itu, penguasaan rantai pasok baterai kini menjadi bagian dari strategi ekonomi berbagai negara. Negara yang mampu mengendalikan pasokan bahan baku, teknologi, hingga kapasitas produksi baterai diperkirakan akan memiliki posisi dominan dalam ekonomi global beberapa dekade mendatang.
Indonesia memiliki peluang besar karena merupakan pemilik cadangan sekaligus produsen nikel terbesar di dunia. Keunggulan tersebut membuka kesempatan untuk masuk lebih jauh ke rantai nilai industri baterai global, bukan sekadar sebagai pemasok bahan mentah.
Dalam industri baterai, dua teknologi katoda mendominasi pasar saat ini, yakni Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Baterai LFP menawarkan biaya produksi yang lebih murah dan banyak digunakan pada kendaraan listrik kelas menengah. Sebaliknya, baterai NMC memiliki densitas energi yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan jarak tempuh lebih jauh dengan bobot baterai yang relatif lebih ringan.
Keunggulan tersebut menjadikan NMC tetap menjadi pilihan utama kendaraan listrik premium maupun kendaraan yang membutuhkan performa tinggi.
Bagi Indonesia, teknologi NMC memiliki nilai strategis karena memanfaatkan nikel sebagai bahan baku utama. Berbeda dengan LFP yang lebih banyak bergantung pada litium dan fosfat yang harus diimpor, pengembangan NMC memberi peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memperoleh nilai tambah dari sumber daya mineral yang dimiliki.
Pasar EV Indonesia Terus Bertumbuh
Permintaan kendaraan listrik di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan mobil listrik melonjak dari hanya ratusan unit pada 2021 menjadi lebih dari 114.000 unit pada 2025. Penjualan sepeda motor listrik juga menunjukkan tren yang sama.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak tajam pada paruh pertama 2026, dipimpin merek asal China, seperti BYD dan Jaecoo. Total penjualan ritel dan grosir kendaraan listrik berbasis baterai menyentuh angka 69.739 unit pada periode Januari hingga Juli 2026, naik sekitar 80,8% dibanding tahun lalu
Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar domestik mulai terbentuk dan dapat menjadi fondasi bagi berkembangnya industri kendaraan listrik nasional.
Namun, tantangan masih besar. Sebagian besar kendaraan listrik yang beredar masih merupakan produk impor utuh atau completely built up (CBU). Selain itu, mayoritas kendaraan listrik yang dipasarkan masih menggunakan baterai LFP sehingga pemanfaatan nikel domestik belum optimal.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri manufaktur baterai berbasis nikel sekaligus meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri melalui pembangunan rantai pasok yang lebih lengkap.
Hilirisasi Tidak Berhenti di Smelter
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia telah berhasil mengubah struktur industri nikel. Ekspor bijih mentah berangsur digantikan oleh produk olahan, seperti Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel. Transformasi tersebut merupakan langkah awal menuju industri yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Tahap berikutnya adalah memperkuat produksi material baterai, seperti precursor dan Cathode Active Material (CAM). Kedua produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan produk olahan awal karena langsung menjadi bahan baku industri baterai.
Pengembangan industri pada tahap menengah ini menjadi kunci agar Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
Dengan menguasai lebih dari 40% cadangan nikel dunia, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menjadi pemasok material baterai dalam jangka panjang. Namun, keunggulan tersebut harus didukung kemampuan mengolah nikel menjadi battery-grade nickel sesuai spesifikasi industri global.
Teknologi seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), pembangunan fasilitas precursor, hingga produksi CAM menjadi bagian penting dari transformasi tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi menjadi strategi membangun industrialisasi nasional yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.

Membangun Ekosistem Hulu hingga Hilir
Keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menambang nikel, tetapi juga oleh keterhubungan seluruh rantai industri. Ekosistem kendaraan listrik ideal dimulai dari kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, produksi precursor, CAM, sel baterai, perakitan kendaraan, hingga daur ulang baterai.
Indonesia mulai membangun integrasi tersebut melalui pembentukan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) yang menghimpun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Pertamina, dan PLN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.
Di sektor hulu, Antam menjamin pasokan bijih nikel sebagai bahan baku utama. Pada tahap menengah, IBC bersama mitra internasional mengembangkan fasilitas produksi CAM di Halmahera dengan kapasitas puluhan ribu ton per tahun.
“Langkah ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam merealisasikan investasi strategis hilirisasi dan industrialisasi jangka panjang yang mampu menciptakan nilai tambah berkelanjutan di dalam negeri,” kata Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dalam sebuah kesempatan.
Sementara itu, pembangunan pabrik sel baterai di Karawang menjadi langkah penting menuju industri manufaktur kendaraan listrik nasional.
Rantai industri tersebut akan semakin kuat apabila didukung pengembangan industri anoda berbahan artificial graphite yang tengah dieksplorasi PT Bukit Asam. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menguasai pasokan nikel untuk katoda, tetapi juga graphite sebagai komponen utama anoda baterai.
Integrasi inilah yang akan memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen strategis.
Managing Director Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto mengatakan melalui inisiatif strategis ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kapasitas manufaktur baterai nasional, tetapi juga membangun penguasaan teknologi, peningkatan kapabilitas SDM, serta integrasi sistem industri hulu dan hilir kendaraan listrik. “Dengan demikian, penciptaan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan bagi Indonesia dapat terwujud.” Kata Dwi belum lama ini.

Kebijakan Pemerintah Menjadi Pengungkit
Keberhasilan hilirisasi juga bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah. Berbagai insentif fiskal mulai disiapkan untuk mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik. Salah satunya adalah pemberian Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel dibandingkan baterai nonnikel.
Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan melalui status Proyek Strategis Nasional (PSN), fasilitas tax holiday, serta pembangunan kawasan industri yang terintegrasi.
Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menarik investasi, tetapi juga mempercepat pembentukan ekosistem industri kendaraan listrik yang lengkap di dalam negeri.
Meski memiliki sumber daya melimpah, Indonesia tetap membutuhkan inovasi agar mampu bersaing dalam industri global.
Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset harus diperkuat sehingga hasil penelitian dapat dikomersialisasikan. Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis dan Mineral Kritis PP Perhapi Muhammad Toha mengatakan banyak inovasi berhenti pada tahap laboratorium dan belum mampu diterapkan di industri.
“Pemerintah memang perlu memberikan insentif kepada perusahaan kalau misalnya perusahaan itu berkolaborasi sama universitas. Artinya, take and give-nya ada,” ujarnya saat dihubungi Investortrust.
Menurut Toha, pendekatan tersebut telah diterapkan di berbagai negara dan terbukti mampu mempercepat lahirnya inovasi yang siap digunakan industri.
Ia juga memperkirakan kontribusi hilirisasi nikel terhadap devisa nasional telah mencapai sekitar 13%. Meski demikian, Indonesia tetap perlu mempercepat hilirisasi berbagai mineral lainnya agar struktur industri tidak bergantung pada satu komoditas.
Ketahanan industri kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral. Ketahanan ekosistem EV dibangun melalui tiga fondasi utama, yaitu kepastian pasokan bahan baku, kedalaman rantai industri, serta tata kelola yang memenuhi standar keberlanjutan global.
Indonesia memiliki modal besar untuk memenuhi ketiga aspek tersebut. Cadangan nikel yang melimpah, pembangunan fasilitas pengolahan yang terus berkembang, dukungan kebijakan pemerintah, serta tumbuhnya pasar domestik memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.
Sebagaimana pepatah mengatakan, “Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.” Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga riset dalam membangun industri kendaraan listrik nasional.
Keberlanjutan hilirisasi nikel pada akhirnya bukan sekadar upaya meningkatkan nilai tambah komoditas tambang. Lebih dari itu, strategi ini merupakan fondasi bagi terciptanya ketahanan ekosistem EV Indonesia, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus membuka jalan menuju ekonomi masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.



