Mimpi Nilai Tambah 100 Kali Lipat di Tengah Perubahan Peta Industri EV Global

Mimpi Nilai Tambah 100 Kali Lipat di Tengah Perubahan Peta Industri EV Global

Bisnis.com, JAKARTA — Ambisi Indonesia mengubah statusnya dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama industri baterai kendaraan listrik memasuki fase krusial.

Di tengah tren penurunan harga baterai global, perubahan teknologi penyimpanan energi, hingga meningkatnya persaingan manufaktur dari Cina, pemerintah dan pelaku industri tetap optimistis hilirisasi nikel menuju baterai masih menawarkan prospek ekonomi yang menjanjikan.

Optimisme itu salah satunya datang dari PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan pelat merah yang menjadi motor pengembangan ekosistem baterai nasional tersebut memperkirakan nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan nikel hingga menjadi baterai dapat mencapai 100 kali lipat dibandingkan menjual bijih nikel mentah.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, nilai tambah tersebut hanya bisa diwujudkan apabila Indonesia berhasil membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kalau kita berhasil membangun value chain nikel sampai ke baterai end-to-end dan betul-betul terintegrasi, nilai tambah dari nikelnya sendiri itu kami prediksi bisa sampai 100 kali nickel ore,” ujarnya dalam podcast Broad Cash Bisnis.com, dikutip Selasa (23/6/2026).

Pernyataan itu menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya potensi ekonomi yang ingin diraih Indonesia melalui program hilirisasi mineral, khususnya nikel.

Maklum, selama ini Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, tetapi sebagian besar nilai tambah masih dinikmati negara lain yang mengolah mineral tersebut menjadi produk manufaktur berteknologi tinggi.

Putar Otak Optimalkan Nikel

Di satu sisi, Aditya mengungkapkan IBC tengah menjajaki pengembangan teknologi baterai generasi baru yang tetap mengandalkan kandungan nikel tinggi. Langkah ini ditempuh untuk menjaga relevansi komoditas nikel Indonesia di tengah perubahan tren industri baterai global.

Dia mengatakan, perusahaan memiliki mandat untuk mendukung hilirisasi nikel nasional.  Oleh karena itu, IBC tidak hanya berfokus pada pengembangan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) maupun lithium iron phosphate (LFP), tetapi juga mulai mengeksplorasi teknologi baterai baru yang berpotensi menggunakan nikel dalam porsi signifikan.

“Kami juga sekarang sedang mengembangkan potensi-potensi kerja sama lain untuk teknologi baterai yang lebih baru. Jadi teknologi baterai yang baru yang kami approach itu adalah yang memang posibilitas untuk menggunakan nikelnya masih cukup tinggi,” katanya.

Dia menjelaskan, teknologi tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan sehingga arah komersialisasi dan pilihan materialnya masih sangat beragam. Namun, IBC tidak ingin terlambat masuk ke segmen tersebut karena sejumlah produsen global telah mengumumkan rencana produksi komersial dalam waktu dekat.

“Kita juga harus cepat-cepat. Karena negara lain sudah banyak yang mulai, pabrikan lain sudah banyak yang bahkan sudah announce akan melakukan skala komersialnya di akhir tahun ini,” ujarnya.

Setali tiga uang, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menilai, perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Teknologi itu berkembang,” ujarnya ketika ditanya mengenai prospek baterai berbasis nikel di tengah maraknya penggunaan LFP.

Meski demikian, pemerintah masih melihat ruang bagi pemanfaatan nikel dalam teknologi baterai masa depan. Menurut Yuliot, kombinasi penggunaan berbagai material masih sangat mungkin terjadi seiring evolusi teknologi penyimpanan energi.

Ilustrasi

Karawang Jadi Ujung Tombak Hilirisasi

Optimisme terhadap masa depan industri baterai nasional tidak hanya bertumpu pada potensi teknologi, tetapi juga pada pembangunan fasilitas manufaktur skala besar yang saat ini tengah berlangsung.

Salah satu proyek utama adalah pembangunan ekosistem baterai terintegrasi hasil kerja sama IBC dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) yang bakal diluncurkan Juli 2026 mendatang.

Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat itu digarap oleh konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) dengan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) dan IBC. CBL merupakan anak usaha dari CATL.

Konsorsium perusahaan-perusahaan itu pun membentuk perusahaan baru khusus mengelola pabrik baterai tersebut, yakni PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Adapun kapasitas produksi tahap pertama dirancang mencapai 6,9 GWh per tahun. Kapasitas tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS).

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai, proyek baterai nasional tersebut masih memiliki prospek ekonomi yang kuat meskipun industri global menghadapi tekanan harga.

Menurutnya, proyek hulu-hilir senilai Rp98 triliun yang tengah dikembangkan konsorsium IBC dan CATL di Karawang masih layak secara komersial.

“Pabrik baterai tersebut dibangun dengan konsep captive market, yang menjamin produksi langsung diserap produsen otomotif. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggencarkan penggunaan mobil listrik, di mana untuk mobil listrik di Indonesia bisa menggunakan baterai berbasis nikel yang cadangannya cukup banyak di Indonesia,” ucap Sudirman kepada Bisnis.

Selain itu, proyek tersebut dirancang mengintegrasikan seluruh rantai pasok mulai dari penambangan nikel, pengolahan bahan baku, produksi prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.

Integrasi tersebut dinilai mampu menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi produksi, dua faktor yang sangat menentukan daya saing industri baterai global.

Tak hanya menyasar kendaraan listrik, baterai produksi dalam negeri juga diproyeksikan memasok kebutuhan Energy Storage System (ESS) yang permintaannya terus meningkat seiring ekspansi energi terbarukan.

“Selain untuk mobil listrik, baterai produksi dalam negeri juga disiapkan untuk sistem penyimpanan energi atau ESS, seiring melonjaknya tren energi bersih,” kata Sudirman.

Di luar pasar domestik, Indonesia juga membidik posisi yang lebih strategis dalam rantai pasok regional.

Sudirman berpendapat, apabila fasilitas baterai nasional mampu memproduksi baterai secara massal dengan harga kompetitif, peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara akan terbuka lebar.

Prospek tersebut muncul seiring percepatan adopsi kendaraan listrik dan pembangunan sistem penyimpanan energi di kawasan.

Namun, untuk mencapai tahap tersebut Indonesia harus mampu menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Produksi tambang dan smelter nikel perlu tetap terjaga agar industri baterai memiliki kepastian suplai jangka panjang.

Antara Peluang dan Risiko

Meski prospeknya menjanjikan, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa klaim nilai tambah hingga 100 kali lipat tidak otomatis menjamin keuntungan besar.

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita berpendangan, konsep hilirisasi memang secara teoritis mampu menghasilkan nilai tambah jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah.

Namun, dalam praktiknya keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan industri nasional bersaing secara global. Menurutnya, industri baterai saat ini menghadapi tekanan margin akibat penurunan harga yang berlangsung cepat. Oleh karena itu, keunggulan sumber daya alam saja tidak cukup.

“Jadi proyek baterai nasional masih bisa ekonomis, tetapi dengan syarat sangat ketat, yakni harus berbasis efisiensi, teknologi yang tepat, dan integrasi rantai pasok yang solid, bukan hanya bertumpu pada keunggulan bahan baku,” ujarnya.

Ronny menilai, Indonesia memang memiliki peluang besar menjadi basis produksi baterai regional berkat dominasi cadangan nikel global. Namun, negara ini perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pemasok bahan baku.

Dia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi, pengembangan industri prekursor dan katoda, serta kepastian regulasi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan jangka panjang.

“Tanpa itu, ada risiko Indonesia hanya menjadi basis produksi berbasis sumber daya, bukan pusat manufaktur bernilai tinggi,” imbuh Ronny.

Dia mengidentifikasi tiga risiko utama yang perlu diantisipasi. Pertama, risiko pasar akibat perubahan teknologi baterai global yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap nikel.

Kedua, risiko efisiensi dan biaya produksi yang menentukan daya saing terhadap produsen besar seperti China. Ketiga, risiko tata kelola, termasuk isu lingkungan dan tuntutan standar ESG yang semakin ketat.

Ronny mengatakan, jika tantangan tersebut dapat diatasi, hilirisasi nikel menuju baterai berpotensi menjadi salah satu transformasi industri terbesar Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

“Jika risiko-risiko ini tidak dikelola dengan baik, maka hilirisasi bisa berhenti pada tahap awal dan tidak mencapai nilai tambah optimal seperti yang diharapkan,” ucap Ronny.

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20260625/44/1983076/mimpi-nilai-tambah-100-kali-lipat-di-tengah-perubahan-peta-industri-ev-global