Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mendesak Pemerintah Indonesia pada Rabu, 22 April 2026, untuk memastikan proyek hilirisasi bauksit yang diminati investor China berjalan terukur guna mencegah kelebihan pasokan produk olahan.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya minat investor asal China dalam pengembangan rantai pasok hilirisasi bauksit, termasuk pembangunan smelter alumina dan aluminium di dalam negeri sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Data menunjukkan kapasitas olah bijih nikel mencapai 350 juta ton per tahun, sementara sektor bauksit hanya didukung tiga pabrik pengolahan dengan kapasitas masing-masing sekitar 10 juta ton per tahun.
“Perhapi memberikan catatan terkait investasi di hilirisasi bauksit ini. Berkaca dari pengalamanan hilirisasi nikel yang berlebihan, dengan jumlah pabrik pengolahan yang lebih dari 100 pabrik, di satu sisi justru menyebabkan tata Kelola di industri nikel menjadi tak terkendali,” kata Sudirman, Ketua Umum Perhapi.
Sudirman memperingatkan bahwa produksi berlebih pada nikel sebelumnya telah memicu penurunan harga komoditas yang signifikan serta mengancam ketahanan cadangan bijih nasional dan kelestarian lingkungan.
“Investasi yang tidak terkendali, justru di satu sisi menyebabkan dampak negatif bagi industri nikel Tanah Air. Perhapi tidak menginginkan hal yang sama terjadi juga di industri bauksit,” tegas Sudirman, Ketua Umum Perhapi.
Pemerintah disarankan untuk mendorong hilirisasi hingga ke produk akhir berbahan aluminium dan menerapkan pembatasan kapasitas yang lebih terarah agar stabilitas industri tetap terjaga.
“Namun, dengan cadangan yang sangat besar, justru sektor hilirisasi bauksit belum terlalu berkembang dibandingkan dengan hilirisasi nikel. Sejak UU No 4/2009 yang mengamanatkan kewajiban untuk melakukan hilirisasi mineral hingga saat ini, hanya ada 3 pabrik pengolahan bauksit di Indonesia yang telah beroperasi,” ujar Sudirman, Ketua Umum Perhapi.
Di sisi lain, raksasa industri Tsingshan Holding Group Co. dilaporkan sedang bernegosiasi dengan Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk investasi smelter aluminium baru senilai US$3 miliar atau sekitar Rp51,40 triliun.
Fasilitas yang direncanakan berlokasi di kawasan industri Weda Bay tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi mencapai 800.000 ton melalui pengembangan dua fase pembangunan.
Rencana ekspansi ini mencakup pembangunan pabrik peleburan serta fasilitas pembangkit listrik pendukung untuk memenuhi kebutuhan pasokan global di tengah ketatnya batas produksi domestik di China.
Sumber : https://www.sultramedia.id/perhapi-desak-kendali-hilirisasi-bauksit




