Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai penghentian operasional produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia di Papua Tengah akan menghambat upaya hilirisasi tembaga.
Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy mengatakan, pihaknya memahami dan menilai penghentian produksi tambang GBC merupakan langkah yang normal setelah terjadi insiden kecelakaan luncuran material basah pada September 2025.
“Sehingga menargetkan tambang GBC baru akan kembali normal di tahun 2027 menurut kami merupakan hal yang wajar,” kata Sudirman kepada Bisnis, Kamis (27/11/2025).
Kendati demikian, dia tak memungkiri penghentian total operasional tambang tersebut membuat produksi hingga penjualan Freeport secara volume mengalami penurunan mendalam.
Pemerintah saat ini memang sudah mengizinkan dua tambang bawah tanah Freeport di wilayah yang sama untuk beroperasi kembali pada akhir bulan Oktober lalu, yaitu tambang Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ).
Namun, total produksi dari kedua tambang Big Gossan dan DMLZ hanya mencapai sekitar 75.000 ton per hari atau hanya sepertiga dari total keseluruhan produksi tambang Freeport dalam kondisi normal, mengingat produksi tambang dari GBC mencapai 2/3 dari keseluruhan produksi tambang Freeport dalam kondisi normal.
Manajemen Freeport menyebut, operasional tambang GBC paling cepat baru akan dimulai kembali pada Maret 2026 dan kemungkinan baru produksi dalam skala terbatas. Operasional akan kembali normal pada 2027 mendatang.
“Memang berbeda dengan kondisi pada tambang terbuka [open pit], untuk memulai kembali operasional penambangan di tambang bawah tanah [underground] akan diperlukan waktu yang lebih lama,” jelasnya.
Sebab, Freeport harus melakukan proses development ulang guna memastikan seluruh sistem infrastruktur keselamatan kerja pertambangan bawah tanah kembali berfungsi dengan normal sehingga Perhapi menilai target tambang GBC baru akan kembali normal pada 2027 adalah hal wajar.
Di samping itu, Sudirman menyebut, terjadinya penurunan produksi Freeport yang signifikan ini tentunya akan memberikan dampak yang serius pada berbagai bidang.
“Termasuk pada kerja sama bisnis mereka maupun pada upaya hilirisasi dan industrialisasi tembaga yang menjadi sedikit terhambat,” jelasnya.
Dalam hal ini, dia menyebut, manajemen Freeport harus berupaya untuk fokus memperbaiki area tambang untuk kembali produksi GBC guna meningkatkan kembali produksi tambang seperti normal saat sebelum terjadinya kecelakaan.
Namun, dia menilai Freeport juga harus melakukan evaluasi dan reviu mendalam terhadap seluruh standar prosedur yang ada guna memastikan tidak akan terulangnya kembali kecelakaan tambang yang mengakibatkan kematian pada pekerja.
“Freeport harus memastikan sistem infrastruktur yang terdampak akibat dari insiden kelongsoran material basah tersebut juga harus dievaluasi kembali dan diperbaiki jika terjadi kerusakan,” pungkasnya.




