Harga Batu Bara Menguat Imbas Konflik Geopolitik dan Risiko El Nino

Harga Batu Bara Menguat Imbas Konflik Geopolitik dan Risiko El Nino

Harga batu bara global menunjukkan tren penguatan menyusul peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan ancaman fenomena cuaca ekstrem pada pertengahan Mei 2026. Komoditas ini kembali menjadi andalan banyak negara untuk menjaga ketahanan energi saat pasokan minyak dan gas bumi terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara kontrak Juni ditutup pada level US$ 136,4 per ton atau naik 1,4 persen pada Senin, 11 Mei 2026. Meskipun sempat sedikit melandai menjadi US$ 135,8 per ton pada Selasa, 12 Mei 2026 akibat penurunan impor China, posisi harga tetap terjaga di level tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, menjelaskan bahwa pergerakan harga komoditas ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak bumi. Ketidakpastian pasokan energi di Selat Hormuz memaksa sejumlah negara memperkuat cadangan energinya melalui batu bara.

“Selat Hormuz berkontribusi sekitar 20% dari supply energi global. Beberapa negara sudah meningkatkan pemakaian batubara untuk ketahanan energinya, terutama listrik yang dikonsumsi masyarakat dan industri,” ujar Rizal.

Rizal juga menyoroti pentingnya pemerintah dalam mengamankan pemenuhan kewajiban pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) di tengah tingginya gairah ekspor. Menurutnya, momentum kenaikan harga ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara melalui penambahan kuota produksi.

“Yang harus dipastikan adalah kebutuhan DMO harus diamankan terutama untuk kelistrikan dan industri lainnya jangan sampai kekurangan pasokan batubara. Harga global naik tentu saja akan menjadi daya tarik penambang untuk melakukan ekspor sebanyak-banyaknya,” tegas Rizal.

Pemerintah yang awalnya menetapkan kuota produksi di angka 600 juta ton diprediksi akan melakukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Perhapi memproyeksikan angka produksi nasional bisa menyentuh 700 juta ton tahun ini.

“Pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga batubara ini untuk meningkatkan pendapatan negara dengan menaikkan kuota produksi,” tutur Rizal.

Rizal mengakhiri penjelasannya dengan menyatakan bahwa perkiraan penambahan kuota dalam revisi anggaran tahun ini akan sangat signifikan.

“Pemerintah awalnya menetapkan kuota di sekitar 600 juta ton. Forecast kami ini bisa sampai 700 juta ton kuota produksi tahun 2026,” pungkas Rizal.

Krisis di Timur Tengah juga berdampak pada kebijakan energi di Asia Timur, di mana Jepang dan Korea Selatan melonggarkan batasan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai batu bara kini bertransformasi menjadi penyelamat dalam situasi darurat energi global.

“Batu bara akan selalu menjadi primadona ketika harga minyak meroket,” kata Yayan.

Selain faktor perang, UBS memperingatkan potensi kemunculan super El Nino mulai pertengahan 2026 yang dapat memperketat pasar global. Gelombang panas ekstrem di Asia diprediksi akan meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin udara, sehingga mendongkrak permintaan impor batu bara di China dan India.

Di dalam negeri, hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah untuk mencapai swasembada energi. Proyek pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) oleh PT Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim tengah digenjot untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang mencapai 8,4 juta ton per tahun.

Sumber : https://www.asatunews.co.id/harga-batu-bara-geopolitik-elnino