Pakar Ragu Keabsahan Data Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia

Pakar Ragu Keabsahan Data Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) meragukan keabsahan sejumlah data potensi logam tanah jarang (LTJ) yang dimiliki Indonesia, lantaran peta sebaran mineral kritis di Tanah Air masih belum dikumpulkan sesuai standar yang berlaku.

Wakil Ketua Umum Perhapi Resvani berpendapat kurang lengkapnya sebaran data potensi LTJ yang dimiliki Indonesia berpotensi membuat pemerintah tidak dapat mengalkulasikan potensi dan kemampuan LTJ yang dapat dioptimalkan.

“Data [potensi LTJ] kita dari Badan Geologi itu, mohon maaf, memang harus divalidasi lebih lanjut. Ya, jangan sampai nanti pemimpin negara menerima data yang masih belum berdasarkan standar-standar pelaporan,” kata Resvani dalam lokakarya Perhapi, dikutip Rabu (11/2/2026).

Dia meyakini pemerintah bakal lebih mudah menyusun peta jalan pengembangan LTJ beserta skala industrinya, jika data potensi LTJ di Indonesia diperbaiki terlebih dahulu.

Di sisi lain, Resvani mengungkapkan Perhapi telah meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Badan Industri Mineral (BIM) untuk membuat standarisasi pelaporan sumber daya cadangan LTJ.

Nah, kalau kita udah punya apa saja, kandungannya, berapa misalnya, maka skala industri ini bisa kita bikin. Arah dari pengembangan mineral yang mau dilakukan siapapun, mau Perminas, mau Danantara, segala macam, itu udah punya kekuatan kita,” ungkap dia.

Badan Industri Mineral memetakan 8 blok mineral kritis yang mengandung LTJ atau rare earth elements (REE) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Seluruh blok tambang tersebut digadang-gadang memiliki sumber cadangan mineral kritis primer.

Kepala BIM Brian Yuliarto menjelaskan 8 blok tambang tersebut diprediksi memiliki LTJ dan beberapa di antaranya turut memiliki mineral kritis lainnya seperti antimon, tungsten, tantalum, serta timah.

Nantinya, lanjut Brian, BIM bakal melakukan penelitian untuk memetakan potensi mineral kritis yang terkandung dan memberikan hasil penelitiannya kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar dapat menentukan wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dan perusahaan pelat merah yang bakal mengelola.

Adapun, blok tambang tersebut tersebar di wilayah Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Jadi misalnya di daerah Bangka Belitung, ini ada Blok Toboali dan Blok Keposang, dan juga Blok Mentikus begitu ya, dan Batubesi, ini satu klaster. Dan ini selain rare earth, ini juga ada beberapa mineral lainnya yang tadi kami sampaikan yaitu tungsten, tantalum, dan antimon, yang juga sangat besar perannya untuk industri pertahanan,” kata Brian dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, awal pekan ini.

“Kemudian juga yang berikutnya itu adalah Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana,” ujarnya.

Berikut daftar 8 blok tambang yang diprioritaskan BIM untuk dilakukan eksplorasi:

1. Blok Toboali (Bangka Belitung)

  • Komoditas utama: Tungsten sekitar 8.287 parts per million (ppm), logam tanah jarang 2.391 ppm, serta tantalum.
  • Luas wilayah: 10.000 hektare.

2. Blok Keposang (Bangka Belitung)

  • Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 1.000 ppm.
  • Luas wilayah: 5.000 hektare.

3. Blok Mentikus (Bangka Belitung)

  • Komoditas utama: Timah sekitar 23.400 ppm dan tungsten sekitar 9.000 ppm.
  • Luas wilayah: 200 hektare.
  • Catatan: Status wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) masih perlu dikonfirmasi.

4. Blok Batubesi (Bangka Belitung)

  • Komoditas utama: Timah sekitar 5.000 ppm dan tungsten sekitar 2.500 ppm.
  • Luas wilayah: 500 hektare.

5. Blok Melawi (Kalimantan Barat)

  • Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 81.720 ppm.
  • Luas wilayah: 54.000 hektare.
  • Catatan: Sekitar 20% wilayah berada di kawasan hutan lindung.

6. Blok Boyan Hulu (Kalimantan Barat)

  • Komoditas utama: Antimon dengan kadar sekitar 70%—95%.
  • Luas wilayah: 8.492 hektare.
  • Catatan: Sekitar 15% wilayah berada di kawasan hutan lindung.

7. Blok Mamuju (Sulawesi Barat)

  • Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar sekitar 2.000 ppm.
  • Luas wilayah: 23.000 hektare.

8. Blok Bombana (Sulawesi Tenggara)

  • Komoditas utama: Logam tanah jarang sekitar 220 ppm dan antimon sekitar 6.170 ppm.
  • Luas wilayah: 64.000 hektare.
  • Catatan: Sekitar 60% wilayah berada di kawasan hutan lindung.

Sumber : https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/99340/pakar-ragu-keabsahan-data-potensi-logam-tanah-jarang-di-indonesia/2