Perhapi Sebut Tidak Semua PLTU PLN Butuh Batu Bara Kalori Menengah

Perhapi Sebut Tidak Semua PLTU PLN Butuh Batu Bara Kalori Menengah

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyatakan bahwa tidak semua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) memerlukan pasokan batu bara kalori menengah sebagai bahan bakar utama mereka, Senin (29/6/2026).

Kebutuhan tersebut hanya mencakup pembangkit tertentu, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz. Ketua Bidang Hubungan Industri dan Asosiasi Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen menjelaskan jenis pembangkit yang membutuhkan spesifikasi bahan bakar tersebut.

“Sebenarnya tidak semua PLTU PLN membutuhkan batu bara kalori menengah ini. [Pembangkit listrik] yang memerlukan adalah PLTU dengan teknologi terkini yaitu ultra supercritical [USC],” ungkap Ardhi.

Teknologi USC memanfaatkan boiler canggih bertekanan di atas 22,1 megapascal dan suhu melebihi 374 derajat Celsius. Pembangkit jenis ini menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, dengan contoh meliputi PLTU Tanjung Jati B, PLTU Batang, PLTU Jawa 7, serta PLTU Jawa 9 dan 10.

“Contoh PLTU USC kalau di Indonesia itu adalah PLTU Tanjung Jati B, PLTU Batang, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10,” jelas Ardhi.

Beberapa pembangkit di Indonesia juga telah dilengkapi dengan fasilitas pencampuran atau blending. Hal ini memungkinkan pihak pengelola untuk membeli batu bara kalori tinggi dan rendah secara terpisah demi mendapatkan spesifikasi menengah.

“Jadi akan dibeli secara terpisah, kemudian batu bara kalori tinggi dan kalori rendah nantinya akan di-blending sendiri oleh mereka,” ungkapnya.

Kondisi ini merespons pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait kendala pemenuhan batu bara kalori 5.200 kcal/kg akibat penurunan kualitas domestik. Pemerintah mencatat kebutuhan batu bara PLN tahun 2026 mencapai 154 juta ton, dengan 134 juta ton di antaranya sudah terikat kontrak.

“Memang ada kendala sedikit terhadap batu bara medium, kalori 5.200. Kita tahu sekarang kalori batu bara kita makin hari makin rendah. Nah, ini yang lagi kita cari solusinya, tetapi secara yang lainnya enggak ada masalah,” ujarnya.

Kekurangan pasokan batu bara spesifikasi menengah ini sempat disebut menjadi salah satu pemicu pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa. Bahlil menyampaikannya dalam agenda Energy Forum CNBC Indonesia pada Kamis (25/6/2026).

“Kita cek ada batu bara medium yang kalorinya di atas 5.000 untuk campur. Inilah yang dibutuhkan,” ungkap Bahlil.

Kementerian ESDM meminta PLN memberikan informasi kebutuhan jenis batu bara lebih awal agar dapat disesuaikan dengan skema domestic market obligation (DMO) oleh penambang. Langkah antisipasi dini diperlukan agar hambatan pasokan tidak terjadi mendadak.

“Nah, kalau pemerintah memberikan DMO teknisnya, kan kamu perusahaan gitu loh. Jangan ‘air sudah di batang leher’ baru teriak,” tambahnya.

Guna menyelesaikan kendala pengadaan ini, pemerintah telah membentuk tim khusus yang melibatkan perwakilan PLN, Dirjen Minerba, BPKP, dan Inspektur Jenderal Kementerian ESDM. Tim ini bertugas memastikan proses pengadaan berjalan dengan transparan.

“Pengadaannya harus transparan dan saya minta aparat penegak hukum awasi supaya jangan kelakuan begini setiap tahun muncul terus,” ungkap Bahlil.

Sumber : https://www.keprinews.co/perhapi-pltu-pln-batu-bara-kalori-menengah